Tulisan ini diadaptasi dari
tulisan Rhenald Kasali dengan judul Pemimpin Berbicara, Rakyat Tertidur yang
dimuat dalam harian Kompas, Sabtu, 19 April 2008. Apa yang diangkat
oleh Rhenald Khasali dalam tulisan tersebut menginngatkan kita pada praktik
yang terjadi dalam dunia pendidikan.
Sudah tiga kali
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berang melihat tamu-tamunya tertidur saat
mendengarkan pidatonya di Istana Negara. Di lingkugan pendidikan, guru sering
dituntut untuk meninggalkan model pembelajaran monoton yang menekankan guru
berceramah karena menyebabkan siswa cenderung pasif bahkan tertidur. Benarkah
perubahan cepat yang dialami Indonesia dewasa ini telah membuat murid sulit
mendengarkan?
Di era perubahan
sekarang ini, mendengarkan jauh lebih sulit. Jika Cuma mendengar, tentu tak
sulit sebab telinga selalu terbuka. Namun, mendengarkan butuh pikiran, untuk
itu diperlukan energi amat besar. Pakar komunikasi McGregor pernah mengingatkan
(1970), manusia adalah makhluk yang malas. Kita malas mendengarkan jika yang
bicara tidak benar-benar mampu membujuk (persuasive). Maka McGregor tidak
menyalahkan pendengar jika mereka tertidur sebab secara alamiah manusia
benar-benar malas mendengarkan.
Mendengarkan,
merupakan upaya yang memerlukan energi dan konsentrasi. Energi bisa hilang di
jalan karena kemacetan lalu lintas, amarah, dan berbagai masalah pekerjaan.
Sementara konsentrasi ditentukan oleh daya persuasi guru, gangguan-gangguan
informasi, desain ruangan, pencahayaan, kualitas suara, dan intonasi serta kebiasaan.
Bayangkan, apa jadinya mendengarkan sesuatu dalam keadaan yang penuh gangguan.
Semakin sulit mendengarkan dan semakin mudah tertidur.
Era
Perubahan
Era perubahan
ditandai dengan presentasi multimedia yang kaya ilustrasi. Kecepatan menjadi
sangat penting. Lihatlah presenter-presenter dan dialog-dialog di televisi.
Semua berbicara sangat cepat dalam hitungan detik. Tidak ada tempat lagi bagi
narasumber yang lemot (lemah otak)
atau laksmi (lambat mikir). Intonasi
suara yang naik turun berirama secara ekstrim, bahkan berteriak, menjadi
penentu apakah penonton memindahkan channel-nya
atau tidak.
Mereka juga tampil lebih muda.
Lebih modis, lebih berani dengan warna, jokes,
contoh, bahkan konflik dan drama. Terus terang, spontan, dan bicara tanpa teks.
Seorang tak akan dibiarkan bicara sendiri bermenit-menit. Selalu saja ada yang
memotong pembicaraan. Sehari-hari masyarakat juga mulai terbiasa berkomunikasi
cepat dengan kalimat-kalimat pendek (SMS). Di luar itu, berita-berita digital
dan lebih menghibur mengepung masyarakat. Semua lebih singkat, lebih cepat,
lebih menarik. Suka atau tidak suka, kebiasaan baru masyarakat mendengar yang
demikian telah membentuk cara baru berkomunikasi. Bagaimana dengan para guru
dalam menyampaikan (berbicara) materi?
Jujur, harus
kita katakan, mereka semua mengabaikan berbagai tuntutan perubahan itu.
Pembicaraannya panjang, bertele-tele, abstrak, terlalu banyak nasihat dan
basa-basi, serta kadang disampaikan sambil membaca dan tanpa ekspresi.
Kecepatannya lamban, intonasinya lemah, tidak ada interaksi, sementara
penampilannya juga serius dan kaku. Kalau guru mengabaikan semua itu, bisa
dibayangkan bagaimana hasil pembelajaran dan hasil pendidikan pada akhirnya.
Semua siswa berbicara sendiri-sendiri dan tidak ada lagi yang mendengarkan.
Tensi meninggi, amarah tak terkendali, respek memudar karena murid mendengar
hanya terpaksa. Jangan terkejut bila murid lebih memilih selebriti pada suatu
tontonan yang mengerti perubahan dan lancar berkomunikasi daripada guru yang
kurang memahami denyut nadi perubahan.
Reformasi
Pembelajaran
Kegagalan
komunikasi para guru dan gagalnya murid mendengarkan, sebenarnya tidak lepas
dari gagalnya reformasi sistem pembelajaran dalam beradaptasi dengan perubahan.
Sistem pembelajaran telah menjadi sebuah pekerjaan sehari-hari yang penuh
dengan kerutinan. Mereka mengajar demikian karena dulu mereka juga diajar
dengan cara demikian. Presentasi dan pembelajaran guru dibuat tegang, kaku, dan
tertulis secara runtut, dengan metode cut
and paste, sehingga semua pembukaan dan penutupnya sama. Para guru
seakan-akan dipenjara dan dibelenggu dengan aturan-aturan dan tradisi yang
dibuat satu dua dekade lalu.
Guru yang
terbelenggu pun mengikuti semua itu dengan patuh sehingga administrasinya
bagus, tetapi muridnya malas mendengarkan. Kondisi jaman sekarang menuntut
orang lebih cerdas, mendorong agar gurunya sadar konteks dan membiasakan diri
menyampaikan tanpa membaca, tetapi bisa berbicara ringkas, padat, cepat,
berirama, dan interaktif. Hanya inilah yang bisa menyelamatkan respek para
siswa terhadap para gurunya. Ayo bongkar kebiasaan lama dalam mengajar yang
sudah ketinggalan jaman sampai tuntas. Guru jangan lagi lemot dengan mengajar sambil membaca buku teks atau mengajar hanya
dengan berbicara saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar