Kamis, 10 November 2011

Guru Berbicara, Murid Tertidur


Tulisan ini diadaptasi dari tulisan Rhenald Kasali dengan judul Pemimpin Berbicara, Rakyat Tertidur yang dimuat dalam harian Kompas, Sabtu, 19 April 2008. Apa yang diangkat oleh Rhenald Khasali dalam tulisan tersebut menginngatkan kita pada praktik yang terjadi dalam dunia pendidikan.


Sudah tiga kali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berang melihat tamu-tamunya tertidur saat mendengarkan pidatonya di Istana Negara. Di lingkugan pendidikan, guru sering dituntut untuk meninggalkan model pembelajaran monoton yang menekankan guru berceramah karena menyebabkan siswa cenderung pasif bahkan tertidur. Benarkah perubahan cepat yang dialami Indonesia dewasa ini telah membuat murid sulit mendengarkan?
Di era perubahan sekarang ini, mendengarkan jauh lebih sulit. Jika Cuma mendengar, tentu tak sulit sebab telinga selalu terbuka. Namun, mendengarkan butuh pikiran, untuk itu diperlukan energi amat besar. Pakar komunikasi McGregor pernah mengingatkan (1970), manusia adalah makhluk yang malas. Kita malas mendengarkan jika yang bicara tidak benar-benar mampu membujuk (persuasive). Maka McGregor tidak menyalahkan pendengar jika mereka tertidur sebab secara alamiah manusia benar-benar malas mendengarkan.
Mendengarkan, merupakan upaya yang memerlukan energi dan konsentrasi. Energi bisa hilang di jalan karena kemacetan lalu lintas, amarah, dan berbagai masalah pekerjaan. Sementara konsentrasi ditentukan oleh daya persuasi guru, gangguan-gangguan informasi, desain ruangan, pencahayaan, kualitas suara, dan intonasi serta kebiasaan. Bayangkan, apa jadinya mendengarkan sesuatu dalam keadaan yang penuh gangguan. Semakin sulit mendengarkan dan semakin mudah tertidur.
Era Perubahan
Era perubahan ditandai dengan presentasi multimedia yang kaya ilustrasi. Kecepatan menjadi sangat penting. Lihatlah presenter-presenter dan dialog-dialog di televisi. Semua berbicara sangat cepat dalam hitungan detik. Tidak ada tempat lagi bagi narasumber yang lemot (lemah otak) atau laksmi (lambat mikir). Intonasi suara yang naik turun berirama secara ekstrim, bahkan berteriak, menjadi penentu apakah penonton memindahkan channel-nya atau tidak.
Mereka juga tampil lebih muda. Lebih modis, lebih berani dengan warna, jokes, contoh, bahkan konflik dan drama. Terus terang, spontan, dan bicara tanpa teks. Seorang tak akan dibiarkan bicara sendiri bermenit-menit. Selalu saja ada yang memotong pembicaraan. Sehari-hari masyarakat juga mulai terbiasa berkomunikasi cepat dengan kalimat-kalimat pendek (SMS). Di luar itu, berita-berita digital dan lebih menghibur mengepung masyarakat. Semua lebih singkat, lebih cepat, lebih menarik. Suka atau tidak suka, kebiasaan baru masyarakat mendengar yang demikian telah membentuk cara baru berkomunikasi. Bagaimana dengan para guru dalam menyampaikan (berbicara) materi?
Jujur, harus kita katakan, mereka semua mengabaikan berbagai tuntutan perubahan itu. Pembicaraannya panjang, bertele-tele, abstrak, terlalu banyak nasihat dan basa-basi, serta kadang disampaikan sambil membaca dan tanpa ekspresi. Kecepatannya lamban, intonasinya lemah, tidak ada interaksi, sementara penampilannya juga serius dan kaku. Kalau guru mengabaikan semua itu, bisa dibayangkan bagaimana hasil pembelajaran dan hasil pendidikan pada akhirnya. Semua siswa berbicara sendiri-sendiri dan tidak ada lagi yang mendengarkan. Tensi meninggi, amarah tak terkendali, respek memudar karena murid mendengar hanya terpaksa. Jangan terkejut bila murid lebih memilih selebriti pada suatu tontonan yang mengerti perubahan dan lancar berkomunikasi daripada guru yang kurang memahami denyut nadi perubahan.
Reformasi Pembelajaran
Kegagalan komunikasi para guru dan gagalnya murid mendengarkan, sebenarnya tidak lepas dari gagalnya reformasi sistem pembelajaran dalam beradaptasi dengan perubahan. Sistem pembelajaran telah menjadi sebuah pekerjaan sehari-hari yang penuh dengan kerutinan. Mereka mengajar demikian karena dulu mereka juga diajar dengan cara demikian. Presentasi dan pembelajaran guru dibuat tegang, kaku, dan tertulis secara runtut, dengan metode cut and paste, sehingga semua pembukaan dan penutupnya sama. Para guru seakan-akan dipenjara dan dibelenggu dengan aturan-aturan dan tradisi yang dibuat satu dua dekade lalu.
Guru yang terbelenggu pun mengikuti semua itu dengan patuh sehingga administrasinya bagus, tetapi muridnya malas mendengarkan. Kondisi jaman sekarang menuntut orang lebih cerdas, mendorong agar gurunya sadar konteks dan membiasakan diri menyampaikan tanpa membaca, tetapi bisa berbicara ringkas, padat, cepat, berirama, dan interaktif. Hanya inilah yang bisa menyelamatkan respek para siswa terhadap para gurunya. Ayo bongkar kebiasaan lama dalam mengajar yang sudah ketinggalan jaman sampai tuntas. Guru jangan lagi lemot dengan mengajar sambil membaca buku teks atau mengajar hanya dengan berbicara saja.
                                                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar