Salah satu fenomena menarik jaman ini adalah
berkembang luasnya penggunaan headset. Bila pada beberapa tahun silam orang
menggunakan walkman, compact disk dengan kualitas suara yang lebih bening maka
jaman sekarang lebih ngetrend dengan penggunaan MP3 atau MP4 yang lebih ringkas
dan ringan serta harga yang relatif terjangkau. Dengan segala kemudahan
tersebut, sangat mudah menemukan orang-orang di jaman ini yang menggunakan
headset. Dimana-mana kita dengan mudah menjumpai orang-orang yang menyumpel
kupingnya. Di jalan-jalan umum, di terminal, di berbagai sarana transportasi,
di sekolah, di mall, bahkan ke toilet pun orang terus menggunakannya. Konon itu
menjadi semacam simbol atau atribut manusia modern.
Bila direnungkan lebih jauh sumpel kuping mewakili
sebuah sifat manusia jaman sekarang yang cenderung melalui hari-hari dalam
kesendirian. Sikap hidup yang melahirkan manusia yang asing dengan dunianya
bahkan dengan dirinya sendiri. Sumpel kuping menjadi potret ketidakpedulian
manusia jaman ini. Ketika ada seseorang yang lewat di depannya ia lebih asyik
dengan dirinya sendiri.
Sumpel kuping kemudian juga menjadi sarana yang
melumpuhkan kemampuan manusia berkomunikasi. Bagaimana pun kuping adalah media
pertama yang memungkinkan seseorang melakukan komunikasi dengan manusia lain
dan mengembangkan interaksi dengan orang lain. Ketika seseorang menyumpel
kupingnya, ia mulai menutup komunikasi dengan orang lain. Menutup segala
informasi yang seharusnya masuk. Ketika aktivitas tersebut terus dilakukan, ia
menemukan keasyikan menikmati. Secara manusiawi manusia cenderung terikat
dengan segala sesuatu yang mengasyikkan.
Maka tidak mengherankan bila manusia jaman ini
cenderung kurang – untuk tidak mengatakan tidak – mampu dalam berkomunikasi dan
beriteraksi dengan sesama. Bahkan manusia cenderung takut untuk menjalin relasi
atau membangun persahabatan baru dengan sesama. Padahal semua menyadari bahwa dalam kehidupan ini kita harus
membangun relasi persahabatan dengan siapa pun. Tapi ketika kuping tersumpel
relasi tentu tidak pernah mungkin dibangun. Karena tidak terlatih untuk
berelasi dan berdialog maka cara manusia dewasa ini dalam menyelesaikan
masalah pun kurang mengedepankan
cara-cara dialog. Sementara cara-cara dialog merupakan potret tingkat
keberadaban manusia. Semoga kita menjadi lebih bijak dalam memanfaatkan seluruh
hasil tingkat kemajuan teknologi. Bahwa teknologi dibuat untuk meningkatkan
martabat manusia bukan sebaliknya dengan teknologi justru merendahkan martabat
kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar