Kamis, 03 November 2011

Sumpel Kuping


Salah satu fenomena menarik jaman ini adalah berkembang luasnya penggunaan headset. Bila pada beberapa tahun silam orang menggunakan walkman, compact disk dengan kualitas suara yang lebih bening maka jaman sekarang lebih ngetrend dengan penggunaan MP3 atau MP4 yang lebih ringkas dan ringan serta harga yang relatif terjangkau. Dengan segala kemudahan tersebut, sangat mudah menemukan orang-orang di jaman ini yang menggunakan headset. Dimana-mana kita dengan mudah menjumpai orang-orang yang menyumpel kupingnya. Di jalan-jalan umum, di terminal, di berbagai sarana transportasi, di sekolah, di mall, bahkan ke toilet pun orang terus menggunakannya. Konon itu menjadi semacam simbol atau atribut manusia modern.
Bila direnungkan lebih jauh sumpel kuping mewakili sebuah sifat manusia jaman sekarang yang cenderung melalui hari-hari dalam kesendirian. Sikap hidup yang melahirkan manusia yang asing dengan dunianya bahkan dengan dirinya sendiri. Sumpel kuping menjadi potret ketidakpedulian manusia jaman ini. Ketika ada seseorang yang lewat di depannya ia lebih asyik dengan dirinya sendiri.
Sumpel kuping kemudian juga menjadi sarana yang melumpuhkan kemampuan manusia berkomunikasi. Bagaimana pun kuping adalah media pertama yang memungkinkan seseorang melakukan komunikasi dengan manusia lain dan mengembangkan interaksi dengan orang lain. Ketika seseorang menyumpel kupingnya, ia mulai menutup komunikasi dengan orang lain. Menutup segala informasi yang seharusnya masuk. Ketika aktivitas tersebut terus dilakukan, ia menemukan keasyikan menikmati. Secara manusiawi manusia cenderung terikat dengan segala sesuatu yang mengasyikkan.
Maka tidak mengherankan bila manusia jaman ini cenderung kurang – untuk tidak mengatakan tidak – mampu dalam berkomunikasi dan beriteraksi dengan sesama. Bahkan manusia cenderung takut untuk menjalin relasi atau membangun persahabatan baru dengan sesama. Padahal semua  menyadari bahwa dalam kehidupan ini kita harus membangun relasi persahabatan dengan siapa pun. Tapi ketika kuping tersumpel relasi tentu tidak pernah mungkin dibangun. Karena tidak terlatih untuk berelasi dan berdialog maka cara manusia dewasa ini dalam menyelesaikan masalah  pun kurang mengedepankan cara-cara dialog. Sementara cara-cara dialog merupakan potret tingkat keberadaban manusia. Semoga kita menjadi lebih bijak dalam memanfaatkan seluruh hasil tingkat kemajuan teknologi. Bahwa teknologi dibuat untuk meningkatkan martabat manusia bukan sebaliknya dengan teknologi justru merendahkan martabat kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar