Citra adalah apa yang dipikirkan
orang tentang kita.
Integritas adalah siapa kita
sesungguhnya
John C. Maxwell.
Nota Pastoral tentang Pendidikan
tahun 2008 menegaskan tiga ciri utama lembaga pendidikan Katolik. Pertama, media pewartaan kabar gembira. Kedua, unggul dalam komitmen dan
pembinaan. Ketiga, lebih berpihak
kepada yang miskin. Selanjutnya dalam
Nota Pastoral tersebut dijelaskan bahwa ciri sekolah sebagai media
pewartaan kabar gembira apabila pendidikan katolik dapat menciptakan lingkungan
paguyuban sekolah yang dijiwai oleh semangat kebebasan dan cinta kasih injili
(Nota Pastoral KWI 2008:3). Cinta kasih
injili dapat dipahami sebagai bentuk cinta kasih yang dilandasi oleh ajaran
injil seperti melayani, mengampuni/memaafkan, lemah lembut, dsb sebagaimana
yang diajarkan oleh Sang Guru sendiri.
Ciri kedua tentang keunggulan lembaga
pendidikan katolik terletaka pada komitmen dan loyalitas terhadap misinya,
yakni menumbuhkan kemampuan dan penilaian yang cermat, memperkenalkan warisan
budaya, mempersiapkan peserta didik untuk memiliki ketrampilan, memupuk
semangat persaudaraan, mengembangkan sikap saling memahami. Keunggulan itu
diwujudkan melalui pembinaan utuh pribadi manusia, yaitu pengembangan
bakat-bakat fisik, psikis, emosional, intelektual, moral, spiritual, dan budaya
secara harmonis (Nota Pastoral KWI 2008:4). Sedangkan pilihan lembaga
pendidikan katolik untuk lebih berpihak kepada yang miskin merupakan kebijakan
asasi untuk mewujudkan amanat Sang Guru dari Nazareth yang mendahulukan yang
miskin, supaya asas keadilan dijunjung tinggi, dan orang miskin lebih mendapat
perhatian yang semestinya (Nota Pastoral KWI 2008:5).
Mengikuti ungkapan Maxwell di atas
berarti identitas atau ciri khas lembaga pendidikan katolik yang dijelaskan
dalam Nota Pastoral tentang Pendidikan tersebut menunjukkan bagaimana atau
siapa kita sesungguhnya sebagai sebuah lembaga pendidikan katolik. Lembaga
pendidikan atau sekolah katolik adalah sekolah yang memiliki ketiga ciri
tersebut. Dari pernyataan ini muncul sebuah pertanyaan reflektif yang patut
kita renungkan bersama. Apakah ciri
tersebut sungguh ada, hidup, serta
dihidupi dalam dan oleh lingkungan komunitas sekolah-sekolah katolik?
Pada kenyataan di lapangan sekolah-sekolah
katolik dihadapkan pada banyak tantangan yang menjauhkannya dari identitas kekatolikan
seperti yang ditandaskan dalam nota pastoral di atas. Pada beberapa kasus yang
mencuat menunjukkan kesulitan sekolah-sekolah katolik untuk mewujudkan komunitas
sekolah yang dilandasi oleh semangat cinta kasih. Kesulitan-kesulitan tersebut
oleh nota pastoral dikatakan bahwa ada kesan lembaga pendidikan katolik
dikelola secara tidak tepat karena tidak terbuka pada pengelolaan secara
profesional. Ada kelemahan manajerial
dan kepemimpinan pada sekolah-sekolah katolik. Sebagian pengelola lembaga
pendidikan katolik masih bersikap mempertahankan kemapanan, sementara tingkat
perubahan berlari demikian cepat. Lalu benturan-benturan pemikiran dan
idealisme akan mudah terjadi dalam komunitas tersebut. Benturan-benturan yang
berpapasan dengan ketidakmampuan mengelola konflik serta kelemahan komunikasi justru
akan menggerus karakter sekolah katolik sebagai komunitas cinta kasih.
Sementara itu pragmatisme pendidikan ikut
menjerat sekolah-sekolah katolik. Makna dan fungsi pendidikan yang seharusnya
dijalankan oleh sekolah-sekolah katolik diredusir sedemikian rupa sebatas
menjalankan fungsi pengajaran. Dalam fungsi ini peranan sekolah cenderung
mengejar aspek-aspek intelektual dan mengabaikan keutuhan manusia dari aspek
fisik, psikis, emosional, dan spiritual. Proses pendampingan dan pembinaan
sebagai sebuah hubungan pendidikan cenderung terabaikan. Prioritas pada fungsi
pengajaran menyebabkan guru cenderung mudah memberi stigma kepada peserta didik
bila tidak mampu mengikuti proses pengajaran. Cap anak bodoh, malas, nakal
merupakan label yang sangat lemah tingkat akurasinya dalam menilai pribadi justru
dikenakan kepada peserta didiknya. Secara tanpa sadar peserta didik lebih
banyak ditempatkan sebagai obyek daripada subyek yang menentukan keberhasilan proses pendidikan.
Almarhum Romo Mangunwijaya sebagaimana dikutip Romo Yosef Dedy
Pradipto dalam bukunya Belajar Sejati Vs
Kurikulum Nasional mengkritik sekolah-sekolah Katolik yang disebutnya tidak
menghargai ”anak sebagai anak”. ”Sekolah-sekolah Katolik seakan lupa mengapa
dan untuk apa gereja mendirikan dan mengelola sekolah-sekolah Katolik.
Sekolah-sekolah Katolik hanya mempersiapkan murid-murid untuk memperoleh ijasah. Tidak untuk hidup. Ikut memperlebar
kesenjangan sosial daripada mempersempit karena hanya ikut hanyut dalam sistem
dan struktur yang ada. Tidak menjadi perintis pembaruan sehingga hanya menunda
konflik sosial. Ikut dalam darwinisme sosial ”survival of the fittest”, dan (sadar tidak sadar) ikut mengusir dan
membunuh ”anak-anak” dari keluarga miskin” (Y. Dedi Pradipto 2007:46).
Slogan keberpihakan kepada kaum miskin
menjadi kabur. Tingginya beban finansial yang dibebankan kepada orang tua masih
menjadi polemik yang tak kunjung berakhir. Meski mencoba berkilah dengan mempertajam
dan memperluas pengertian kemiskinan yang tidak sebatas pada miskin finansial,
sekolah-sekolah katolik masih tertatih-tatih untuk menunjukkan kelebihannya
dalam memberi pelayanan, pendampingan, bimbingan kepada peserta didik yang
miskin secara intelektual, psikis, emosional, maupun spiritual. Masalah-masalah
tersebut semakin diperparah oleh tekanan realitas sosial maupun ekonomi yang
mendera komunitas pendidikan katolik, kebijakan pemerintah yang
cenderung diskriminatif, serta persaingan diantara sesama lembaga pendidikan
katolik membuat lembaga pendidikan
katolik semakin terengah-engah untuk bertahan hidup.
Steven R. Covey (2005:250) mengutip prinsip
kejujuran dari pelatih basket legendaris, Rick Pitino: ”Berbohong membuat
sebuah masalah menjadi bagian dari masa depan; kebenaran membuat masalah
menjadi bagian dari masa lalu.” Sebuah prinsip yang sangat sederhana namun
sangat mendalam. Bila prinsip tersebut dikenakan dalam konteks lembaga
pendidikan katolik tentu tidak berlebihan bila dikatakan bahwa masalah yang
dihadapi lembaga pendidikan katolik dewasa ini – yang oleh para uskup dalam
Nota Pastoral dikatakan kurang memiliki daya tarik, daya saing dan daya tahan –
merupakan buah ketidaksetiaan
sekolah-sekolah katolik terhadap ciri yang seharusnya dimiliki oleh lembaga
pendidikan katolik.
Ketika lembaga pendidikan katolik
dijalankan atau dikelola sama seperti lembaga pendidikan lain maka terjadi
ketidaksesuaian konsep atau landasan filosofis dengan realitas operasional.
Terjadi ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan. Dunia pendidikan
katolik kehilangan integritasnya. Kondisi ini membuat citra lembaga pendidikan
katolik semakin memburuk di mata para penggunanya. Pada gilirannya sekolah-sekolah
katolik akan ditinggalkan peminatnya
bahkan oleh keluarga-keluarga katolik sendiri. Kenyataan digambarkan dengan
baik oleh Nota Pastoral yang memberikan gambaran kuantitatif yang diambil dari sampling 20 lembaga
pendidikan katolik penyelenggara pendidikan dasar dan menengah. Data tersebut
menunjukkan bahwa perbandingan jumlah peserta didik tahun ajaran 2003/2004
dengan 2007/2008 di 19 lembaga pendidikan katolik menurun sebanyak 20.355
orang.
Menyadari kondisi tersebut
sekolah-sekolah katolik maupun lembaga pendidikan katolik pada umumnya perlu
menata diri dengan berbagai perubahannya. Pertama,
mengembalikan dan mempertahankan kesetiaan terhadap ciri khas sekolah katolik
sebagai media pewartaan kabar gembira yang unggul dan berpihak kepada yang
miskin. Kesetiaan pada ciri atau jati diri sekolah katolik merupakan cerminan
tingkat integritas sekolah katolik. Kesediaan sekolah-sekolah katolik untuk
mendahulukan dan memprioritaskan integritas akan melahirkan kepercayaan para stakeholder terhadap institusi pendidikan katolik. Karena
integritas selalu melahirkan kepercayaan.
Sesungguhnya kesetiaan pada ciri khas
tersebut akan melahirkan mutu yang baik. Mengikuti alur berpikir paradigma
total quality manajemen (TQM) mutu adalah kepuasan pelanggan. Kepuasan
pelanggan (intern maupun ekstern) didapat dengan memberikan pelayanan yang
terbaik. Pelayanan yang dilakukan dengan cara terbaik dan diperbaiki
terus-menerus. Sekolah perlu membangun budaya mutu dan menetapkan standar mutu,
waktu pencapaian, cara pencapaian, dan evaluasi agar dapat memperbaikinya
secara rutin.
Kedua,
lembaga pendidikan katolik harus membangun jejaring dengan berbagai pihak.
Jejaring dengan sesama lembaga pendidikan katolik, pemerintah, masyarakat,
organisasi profesi, paroki, lembaga swadaya masyarakat baik ditingkat lokal,
nasional, regional maupun internasional. Urgensi jejaring ini selain sebagai
perwujudan lembaga pendidikan katolik sebagai lembaga sosial yang tidak mampu
berjalan sendiri, juga menjadi cara yang baik dalam meningkatkan mutu lembaga
pendidikan itu sendiri, serta sebagai media
untuk mengaktualisasikan ciri khas lembaga pendidikan katolik.
Ketiga,
sebagaimana yang ditandaskan dalam Nota Pastoral bahwa lembaga pendidikan
katolik perlu menata ulang dirinya agar lebih bermutu. Penataan ini dilakukan
dengan menjalankan fungsi manajemen secara akuntabel, kredibel, dan transparan.
Selain itu yang juga perlu dilakukan dengan meningkatkan mutu pembelajaran,
pembimbingan dan pelatihan serta penilaian terhadap kegiatan pendidikan
(2008:34-35). Termasuk dalam penataan ini adalah untuk terus mengupgrade
kemampuan dan ketrampilan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Komunitas
lembaga pendidikan katolik perlu dibangun semangat dan spirit sense of
change. Dunia ini
adalah dunia yang terus berubah sehingga memerlukan pribadi-pribadi yang mampu
beradaptasi terhadap setiap perubahan. Pendidikan diharapkan mampu melahirkan
manusia yang memiliki jiwa dan semangat untuk selalu siap mengantisipasi serta
melakukan perubahan baik yang sedang maupun yang akan terjadi.
Semoga segala upaya untuk menata diri
ini dapat menjadikan lembaga pendidikan katolik sebagai lembaga yang mempunyai
citra yang baik di tengah masyarakat agar kontribusinya dalam mencerdaskan
kehidupan semakin besar sebagaimana yang telah dibuktikan dalam sejarahnya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus